Menulis Artikel Tapi Sedikit Pengunjungnya? Coba Direoptimasi Yuk!

By Carolina Ratri on June 03, 2022

Setelah Emak menulis artikel dan dipublish, apakah itu artinya tugas sudah selesai? Ya, boleh saja sih dianggap begitu. Namun, ada baiknya, kita pantau terus, Mak, performanya. Supaya apa? Ya, supaya bisa tetap mempertahankan pembaca. Apalagi kalau artikel tersebut memang punya manfaat besar untuk orang-orang, semacam artikel-artikel edukasi atau tip-tip.

Kadang kita memang sudah menulis artikel dengan effort yang lebih. Terus, ternyata setelah beberapa waktu tak berhasil mendapatkan traffic yang diinginkan dari mesin pencari. Padahal kita merasa orang-orang perlu banget nih untuk membaca artikel kita ini, karena penting banget.

Atau, bisa jadi, artikel kita yang satu itu dulu ramai banget, sehari dibaca 1000 orang. Terus, kok sekarang menurun ya, padahal informasinya bagus.

Lalu, apakah kita menyerah begitu saja?

“Wah, kayaknya artikelku kurang menarik nih. Ya udah deh. Bikin artikel lain aja!” Atau lebih parah, “Wah, artikelku enggak banyak yang baca. Males ah, nulis lagi!”

Waaah, jangan gitu, Mak. Justru banyak pakar SEO menyarankan, agar kita sesekali melihat-lihat lagi, artikel lama yang bahasannya bagus, manfaatnya besar, berpotensi dibaca orang banyak. Jika memang belum bisa dijangkau oleh orang banyak, artinya itu perlu direoptimasi. Jangan hanya dianggurin apalagi terus bikin kapok nulis.

Memangnya boleh sama Google, artikel diedit lagi? Bakalan ngaruh ke peringkatnya?

Boleh, malahan Google suka kalau ada update pada artikel lama. Ngaruh atau enggak? Biasanya sih ngaruh, cuma bisa naik bisa juga turun. At least we can try, right? Nanti bisa dipantau kok, hasilnya kayak gimana.

Jadi, apa sih yang menyebabkan performa suatu artikel itu kurang maksimal? Ini harus kita pahami dulu, agar bisa kemudian memperbaiki artikel lama kita dan mereoptimasinya lagi.

Konsisten Ngeblog Meski Hanya Punya Waktu Sempit

Menulis Artikel, Ini Penyebab Performanya Kurang Oke atau Menurun

1. Data dan informasi tidak relevan

Misalnya, Emak menulis artikel tentang tren fashion tahun 2021. Well, sekarang sudah tahun 2022, Mak, dan tren mungkin sudah berganti. Begitu melihat judul atau topiknya saja, orang akan langsung skip, karena ini artinya artikel tersebut sudah out of date. Informasinya sudah tak relevan lagi.

Atau, misalnya, Emak menulis tentang tip parenting. Ternyata untuk beberapa poin, sekarang tuh, sudah enggak relevan lagi. Misalnya, dalam artikel disebutkan bahwa bayi harus dipakaikan gurita. Nah, padahal, sekarang gurita justru dianggap bisa membahayakan si bayi.

Ini contoh ya, Mak, jadi silakan diperiksa lagi, Mak. Apakah artikel yang sekarang performanya menurun, atau memang kurang bagus ini, punya data atau informasi yang tak relevan dengan pembaca.

2. Double content

Seperti yang sudah Emak pahami, bahwa konten hasil kopas itu tidak akan mendapat tempat di Google. Jadi, ada baiknya, setiap kali Emak sudah menulis artikel dan akan mempublishnya, cek dulu skor plagiarismenya dengan tools yang bisa ditemukan di internet.

Namun, ada kalanya memang, kita harus menulis artikel yang mirip-mirip demi beberapa keyword yang ditargetkan. Ini sering terjadi sih, Mak. Jadi, kita seperti memplagiat tulisan kita sendiri, bisa jadi untuk meng-cover keyword tertentu. Atau bisa juga tulisan kita di lain tempat pengin kita publish juga di blog sendiri. Atau, misalnya kita dapat job content placement.

Jika ada yang seperti ini, ada baiknya memang untuk direoptimasi, bahkan diedit atau ditulis ulang lagi, Mak, agar tak terlalu banyak artikel repetitif yang bisa membuat Google menandai bahwa kita mempublish double content.

3. Ditulis tanpa keyword research

Nah, dalam beberapa artikel yang lalu, kita sudah membahas khusus nih, tentang pentingnya keyword research ya. Dan, juga sudah membahas juga bagaimana caranya, dan tools apa yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan keyword research.

Bisa jadi, artikel lama Emak memang belum melalui keyword research, karena pas menulis artikel tersebut, Emak belum tahu caranya. Nah, sekarang sudah tahu bagaimana caranya melakukan keyword research, bisa tuh, Mak, direoptimasi lagi dengan memasukkan keyword yang relevan.

4. Tidak ada tautan

Emak tahu kan, konsep dari www itu sendiri, dari internet itu sendiri? Namanya juga world wide WEB, dan juga interNET, sehingga konsepnya ya seperti jaring, saling berhubungan satu sama lain. Laman website dengan yang lain memang harus berhubungan, karena kalau tidak, tidak akan ada interNET.

So, pastikan blog Emak juga punya tautan ke website-website lain. Jangan takut dengan external link, Mak. External link tidak akan membuat DA/PA turun, spam score naik, peringkat Google turun, pageview turun, kalau dilakukan dengan benar.

Jadi, silakan dilakukan dengan benar. Pastikan Emak hanya menulis artikel dan menautkan blog Emak ke website-website yang tepercaya dan menjadi rujukan, sesuai niche atau topik masing-masing. Misalnya, lagi bahas investasi, boleh banget kalau ditautkan ke OJK, ke Investopedia, atau website-website lain yang berotoritas. Jika menulis tentang traveling, boleh banget ditautkan ke website resmi destinasi wisatanya, atau ke Instagramnya, atau ke dinas pariwisatanya.

Ih, kan enggak dibayar?

Ini bukan soal dibayar atau enggak sih, Mak. Tetapi menautkan artikel kita ke website-website berotoritas juga menunjukkan bahwa artikel kita punya manfaat yang sama besarnya dengan yang ditautkan itu. So, kalau kita menautkan artikel ke website spam, artinya akan terbaca bahwa kita sama-sama spamnya dengan si website.

Semoga cukup paham ya, Mak, sampai di sini.

5. Struktur yang kurang enak dibaca

Artikel yang kurang nyaman dibaca juga bisa membuat artikel jadi kurang diminati. Struktur seperti apa sih yang nyaman untuk dibaca?

Well, sebenarnya ini juga cukup subjektif, tetapi Emak bisa pakai yang paling standar berdasarkan perilaku pembaca online, yaitu:

  • Bagi artikel panjang dalam beberapa bagian, dengan menaruh subjudul H2, H3, dan seterusnya sesuai bahasannya
  • Emak juga bisa memanfaatkan image dan infografis untuk memisahkan satu bagian dengan yang lain.
  • Gunakan kalimat-kalimat pendek, rata-rata paling nyaman antara 8 – 10 kata dalam 1 kalimat. Nggak perlu dihitung beneran juga, Mak, tapi dikira-kira saja.
  • Gunakan juga paragraf-paragraf pendek, maksimal 4 – 5 kalimat dalam 1 paragraf.
  • Emak juga boleh memanfaatkan underline, bold, italic, strikethrough, dan lain sebagainya bila diperlukan, untuk memberikan penekanan-penekanan, asalkan jangan berlebihan.
  • Pakai alignment rata kiri—atau rata dua sisi juga boleh.

Nah, ini adalah “ukuran” nyaman standar para pembaca online, Mak. Jika ada yang dirasa perlu ditambahkan, silakan. Yang penting pegang prinsip less is more. Jangan sampai pembaca terdistraksi yang lain-lain selain konten Emak sendiri.

Menulis Artikel Tapi Sedikit Pengunjungnya? Coba Direoptimasi Yuk!

Kesimpulan

Jadi, untuk reoptimasi menulis artikel ini, apa saja, Mak, yang bisa kita lakukan? Mari kita buat summary-nya supaya mudah diingat:

  1. Cek data dan informasi, apakah masih relevan dan terupdate dengan kondisi sekarang?
  2. Apakah ada artikel yang mirip-mirip, baik di blog sendiri ataupun di tempat lain? Jika iya, tulis ulang dengan gaya yang baru.
  3. Lakukan keyword research untuk topik yang relevan. Bisa juga, kita mengganti target kata kunci jika memang kata kunci yang lama kurang bagus kinerjanya.
  4. Tambahkan tautan-tautan yang relevan
  5. Pastikan strukturnya sudah nyaman dibaca

Demikian tip mereoptimasi artikel lama yang performanya kurang oke atau menurun. Semoga bermanfaat ya, Mak. Selamat menulis artikel!

Comments (3)

June 4, 2022

Ini yang saya cari,
cukup bingun udah buat banyak artikel tapi masih saja sepi.
Terimakasih tipsnya, segera di optimasi.
Semoga bisa lebih ramai blog saya.


June 7, 2022

Always terpukauuu dgn tips2 yg disajikan mak Carra
Haturnuhuuunn


June 15, 2022

tipsnya bagus sekali


    Leave your comment :

  • Name:
  • Email:
  • URL:
  • Comment: