Heboh soal blogger vs hotel beberapa minggu kemarin bikin saya keusik juga. Apalagi pas saya baca salah satu artikel di detik.com. Artikel tersebut judulnya sangat menggelitik.

Elle Darby, Selebgram yang Mau Gratisan di Hotel Mewah”.

Yang mau gratisan, maunya gratisan, gratis, free.

Saya bingung sendiri, bukannya dalam email yang Elle kirim ke Paul Stenson itu jelas-jelas dia jembreng ya apa feedback yang akan didapat hotel mewah tersebut jika bersedia bekerjasama. Bermodal 87 ribu subscriber di Youtube dan 76 ribu followers di Instagramnya, Elle menjanjikan untuk memberikan review gratis Hotel tersebut di semua sosmednya dengan cuma-cuma alias free. 

Saya jelas agak geli juga kalau Elle dibilang ‘Selebgram yang mau gratisan’. Gratisnya sebelah mana? Karena jelas kan ya, ada feedback yang akan diberikan sebagai ganti 5 hari akomodasi hotel yang dipintanya.

Sebenarnya masalahnya simple sih. Elle -yang sayangnya, dia narsis dengan mengatakan dirinya adalah seorang influencer- menawarkan kerjasama kepada salah satu hotel mewah yang ada di Dublin. Dia meminta akomodasi gratis selama 5 hari dengan feedback seperti yang saya sebutkan di atas.

Sesederhana itu.

Sebagai orang marketing, buat saya tawaran seperti itu wajar, yang nggak wajar bagi Paul mungkin karena tata bahasa yang digunakan Elle. Karena dalam balasan emailnya kepada Elle, Paul sempat menyinggung penggunaan kalimat ‘hi there’ di awal kalimat pembuka email Elle tersebut.

Hi there, mungkin terlalu informal untuk dijadikan kalimat pembuka sebuah email penawaran. Dalam hal ini saya mengakui kalau Elle memang kurang memahami hal itu.

Jangankan Paul Stenson, saya saja suka gemes sama orang yang kirim email penawaran tapi bahasanya slang. Tapi alih-alih saya screenshoot dan saya upload di sosmed, biasanya udah saya cuekin aja. Nggak saya bales sama sekali.

Nah ini juga yang sebenarnya saya sayangkan dari sikap Paul, kenapa harus sampai di upload sih ya? Sampai viral pula. Meskipun Paul menutupi data si pengirim email tersebut, pada akhirnya kan ketahuan kalau si Elle yang ngirim.

Agak gemas juga sih, pengen banget rasanya saya bisikin Paul, udahlah biar cuekin aja kalo nggak sreg. Tapi kan nggak bisa ya *lol*

Bukan apa-apa sih, efeknya yang saya sesalin, dari kasus itu kan ada yang pro dan kontra. Ada yang bela Elle dan bilang Paul agak lebay, ada juga yang membenarkan sikap Paul dan menyudutkan Elle.

Perseteruan makin meruncing, screenshootan Paul berbalas vlog curhatan Elle. Ujungnya, Paul Stenson mengumumkan kalau Hotel menolak semua blogger dan influencer.

Dan wow, saya amaze banget jadinya.

Saya bisa s berpositif thinking ya sama Paul, mungkin saja sebelum Elle, Paul sudah banyak dipusingkan dengan banyaknya email penawaran dari para influencer. Puncaknya ya pas Elle, Paul jadi muntab dan ujungnya dia mem-banned semua influencer.

Bisa saja sih kan ya?

Tapi ya, harus toh sampai sebegitunya?

Menurut saya kesalahan memang ada di kedua belah pihak. Ya di Elle sebagai si influencer, ya di Paul juga sebagai perwakilan dari Hotel. Porsi kesalahan keduanya hampir sama. Hanya saja kalau Paul saat itu memilih untuk mengabaikan email Elle, masalahnya nggak akan serumit ini.

Artikel-artikel dengan judul blogger maunya gratisanpun kembali bertebaran setelah kasus ini muncul. Saya kesel juga sih sebenarnya. Gratisan dan barter adalah dua hal yang berbeda. Elle menawarkan jasa review cuma-cuma dengan imbalan akomodasi selama 5 hari. Itu barter kan?

Saya masih blogger amatir yang sepi job. Hahaha. Tapi sekali dua kali pernah lah saya diudang makan di salah satu restoran di kota saya, Tasikmalaya. Saat itu saya dikasih gratis tapi ownernya minta review saya tentang restonya di semua sosmed pribadi saya. Katakanlah, saya makan bayarnya pake review di instagram misal. Yang saya tahu model transaksi seperti itu namanya barter, bukan gratisan.

Dan jangan ikir enak ya jadi blogger? Yang masih pemula aja bisa gratisan makan di resto mewah, cuma modal upload foto di sosmed doang.

Merdeka dalam Blogging?

WHAT?

Tanya saja kepada food blogger profesional macem Julia-Marius (anakjajan.com) memangnya jadi food blogger itu sekedar makan gratis, foto lalu upload? Tidak kan ya?

Karena ungkapan tidak ada satu halpun di dunia ini yang gratis. Itu benar.

***

Mau jadi blogger? Mulailah dengan membranding diri. Cara untuk membranding diri, saya banyak sharing sama teman-teman blogger yang blognya sudah lebih baik dari saya. Dan sayapun meyakini kalau untuk menjadi mereka seperti saat ini, butuh waktu yang tidak sebentar. Mungkin satu tahun, dua tahun atau bahkan lima tahun.

Julia dan Marius yang blognya sering saya kunjungipun, saya yakin butuh waktu sampai mereka bisa menjadi food blogger profesional seperti saat ini. Butuh modal yang tidak sedikit dari segi waktu, kreativitas, dan tentunya materi.

Sayapun saat ini masih usaha banget untuk bisa mem-branding diri saya sebagai lifestyle blogger yang juga seorang marketer dengan hobby suka jajan. Makanya saya sering jajan-jajan atau review tempat makan di Tasik dengan budget sendiri. Jajan sendiri, bayar sendiri, foto makanan sendiri, edit foto sendiri, upload sendiri sampe bikin caption sendiri. Percayalah, butuh pengorbanan yang besar untuk jadi blogger yang akhirnya dapet satu dua job kayak saya, apalagi blogger profesional. Jadi buat saya kata ‘gratis’ itu kurang relevan untuk menggambarkan job di dunia blogger.

Saya punya follower seuprit aja itu pake optimasi instagram segala. Butuh effort banget buat bisa update instagram setiap hari. Cari foto yang nggak terlalu banyak noisenya, yang mayanlah ya buat di pajang di instagram, nulis caption dan lalalalala.

Apalagi untuk vlogger, nge-render video dikata cuma 5 menit? Nggak lah. Terus ya, butuh invest juga di tools macem kamera, lensa, lighting, laptop yang mumpuni, pulsa, kuota, dan lain-lain. Jadi intinya, blogger, vlogger, influencer mau amatir ataupun pro, mereka semua punya effort yang nggak main-main untuk menghasilkan karya. Dan itu udah wow banget kalau menurut saya.

Wajar sih, kalau Elle dengan followers dan subscriber sebanyak itu menawarkan kerjasama pada hotel. Karena kan dia punya massa yang meskipun bukan target market si Hotel tapi kan lumayan ya untuk promosi? Kalau pun memang nggak interest dengan tawaran kerjasamanya ya sudah tolak saja dengan baik-baik atau udah cuekin aja, shay! Hahaha.

Intinya, buat saya seorang blogger, vlogger atau influencer menawarkan kerjasama itu masih wajar banget. Nggak salah dan mungkin kurang smooth aja ya? Walaupun memang dari segi aturan marketing, tata bahasa yang digunakan Elle itu kurang baik, tapi masih okelah.  Mungkin Paul nanggepinnya kurang santai aja.

Untuk yang berpikir kalau blogger maunya gratisan aja, saya nggak setuju. Karena ya, sekali lagi, gratisan dan barter itu beda definisi. Blogger juga mengandalkan kreativitas mereka dalam berkarya, dan nggak gampang loh bikin review. Masih mau bilang kalau para blogger mentalnya gratisan, nggak?

***

Bloggger Maunya Gratisan merupakan post trigger #KEBloggingCollab untuk kelompok Maudya Ayunda, yang ditulis oleh Dita Apriliani, pemilik blog www.katadita.com