Apa yang kita baca mencerminkan siapa diri kita. Mengapa demikian? Karena buku yang kita baca membentuk pola pikir kita; memengaruhi gaya bahasa kita. Apa saja pengaruh buku bacaan terhadap kita?

Saya amat menyukai buku-buku sejarah, baik fiksi sejarah maupun buku teks. Selama isinya tentang sejarah, saya siap melahapnya sampai tuntas. Sejarah memberi pemahaman menyeluruh tentang peristiwa yang terjadi. Dengan membaca sejarah, kita bisa mengetahui asal usul suatu peristiwa atau gambaran perjalanan hidup seseorang. Apa manfaatnya dalam bermasyarakat? Kita lebih kritis dan tidak mudah terseret opini publik, apalagi kalau opini itu didasari hoax.

Sebenarnya, kecintaan saya pada buku-buku sejarah dimulai sejak duduk di bangku kuliah. Sebagai mahasiswa Filsafat, saya takbisa lepas dari sejarah. Hal ini disebabkan filsafat selalu berdialog dengan sejarah. Dan pengaruh buku bacaan sejarah sangat besar dalam perjalanan membaca saya.

Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer menjadi urutan teratas yang memberi tahu saya tentang  masa-masa pergerakan perjuangan kemerdekaan di Indonesia. Tidak hanya itu, tetapi juga dialektika pemikiran Minke dan Nyai Ontosoroh, tokoh-tokoh utamanya, turut berperan membentuk pola pikir saya.

Dari buah pena Pram, Arus Balik, saya belajar tentang hitam putih perjalanan masuknya Islam ke Nusantara. Berlatar runtuhnya Majapahit dan konspirasi politik di Kerajaan Demak, novel Arus Balik menyadarkan saya. Ternyata para wali itu tidak sebersih yang saya kira waktu baca kisah mereka di bangku sekolah dasar. Itulah pentingnya membaca. Kita belajar melihat masalah tidak hanya dari satu sisi saja.

 

Mengapa Membaca Itu Penting

 

Lepas dari keberpihakan Pram terhadap kondisi sosial politik di masa itu, alur cerita, penokohan, dan latar yang ditulis dalam bukunya sangat membantu saya memahami sejarah Nusantara. Tentu saja untuk memahaminya, saya tak hanya membaca pemikiran  Pram, ada beberapa buku yang menjadi bahan perbandingan. Salah satunya, karya Langit Kresna Haryadi. Langit menulis perjalanan Gadjah Mada sejak ia menjadi prajurit biasa hingga menjadi Mahapatih Majapahit.

Di mata saya, Gadjah Mada luar biasa. Dia memilih hidup selibat demi membesarkan Majapahit. Ia menyerahkan jiwa raganya untuk kebesaran bangsa dan Negara. Seandainya para pejabat di negeri ini seperti Gadjah Mada. Indonesia pasti berjaya, bebas korupsi,kolusi, nepotisme.

Masih tentang Indonesia, buku Perempuan-Perempuan Indonesia karya Peter Carey yang ditulis berdasarkan penelitiannya juga menginspirasi saya. Kisah perempuan-perempuan Jawa dari keluarga kerajaan itu ternyata mengerikan. Mereka terikat pada aturan-aturan patriarki ningrat yang membuat putri-putri raja itu tak berdaya. Mereka hanya perhiasan milik sang ayah yang harus pasrah jika tiba saatnya ada pangeran atau kerabat kerajaan yang meminang. Bahagia atau tidak kehidupannya, para putri raja ini harus berpegang teguh pada ajaran “mikul dhuwur mendem njero”.

Namun, kisah perempuan Indonesia tidak melulu penuh ketidakberdayaan. N.H. Dini, sastrawan perempuan Indonesia mematahkan itu dalam tulisan-tulisannya.

Perempuan tidak selamanya tak berdaya meskipun ia harus menjalani kehidupan yang tak sepenuhnya bahagia. Saya menyimpulkan itu dari semua buku yang ditulis N.H. Dini. Ia menjalani kehidupan rumah tangga yang tidak bahagia. Namun, ia tak membiarkan dirinya terbelenggu ketidakbahagiaan pernikahan. Ia terus menulis menyuarakan gagasan-gagasannya tentang harapan-harapan perempuan dan perjuangan untuk bahagia.

Sama halnya dengan RA. Kartini. Ia memang tak kuasa menolak poligami yang dilakukan suaminya. Namun, Kartini tetap membebaskan pikirannya. Ia tetap menulis surat, menceritakan kegelisahan pemikirannya, dan terus bergerak membantu perempuan lain mengentaskan diri dari kebodohan akibat tak bisa membaca dan menulis.

Meskipun ia perempuan Jawa totok, pola pikirnya berbeda dengan perempuan Jawa pada umumnya di masa itu. Apa yang membuat pola pikirnya berbeda? Buku-buku yang dibacanya.

Pengaruh buku bacaan terhadap pola pikir, perilaku bahkan gaya bahasa kita, benar adanya.

Sebagian besar buku yang saya baca berkisah tentang perjuangan perempuan dan perjalanan Nusantara di masa kerajaan dan masa melepaskan diri dari kolonialisme, pola pikir saya pun terbentuk dari buku-buku itu. Saya sangat menghargai kesetaraan gender meskipun bukan feminis. Saya begitu mencintai negeri ini karena negeri ini adalah mahakarya luar biasa yang harus kita jaga nilai-nilai persatuan dan kesatuannya.

Kira-kira emak blogger setujukah dengan hal itu? Atau punya pendapat lain tentang pengaruh buku bacaan? Yuk berbagi agar orang lain senang membaca juga.

***

Pengaruh Buku Bacaan Terhadap Pola Pikir merupakan post trigger #KEBloggingCollab untuk kelompok Nila F. Moeloek, yang ditulis oleh Sugi Siswiyanti.

Sugi Siswiyanti, emak blogger pengelola blog www.siswiyantisugi.com

IG : @perjalanansugi

Twitter : @panah_bintangku