Kita semua maklum, uang merupakan sesuatu yang sensitif. Demi uang orang akan melakukan apa pun. Bahkan bisa dibilang, uang dapat memperbudak manusia. Namun terlepas dari semua itu, untuk hidup, uang memang sangat kita butuhkan. Kita harus bisa mengatur uang, terutama keuangan keluarga. Uang yang telah kita peroleh semestinya dapat dikelola agar mencukupi kebutuhan keluarga. Dalam proses mengatur keuangan dalam keluarga, diperlukan seseorang yang mengerti seluk beluk finansial, dibutuhkan kunci keuangan keluarga supaya penghasilan bisa cukup hingga akhir bulan.

Di dalam beberapa rumah tangga, perempuanlah yang menjadi kunci keuangan keluarga. Perempuan dianggap bisa lebih teliti, dapat memilih antara kebutuhan dengan keinginan, dan perempuan dianggap bisa lebih berhemat.

Keluarga, layaknya sebuah perusahaan. Jika manajer keuangannya tidak cakap, maka perusahaan akan bangkrut. Begitu pula dengan keluarga. Jika pengatur keuangannya tidak bisa mengatur keuangan dengan baik, maka keluarga pun bisa bangkrut.

Banyak keluarga yang seperti itu. Ketika memiliki banyak uang, mereka bergaya hidup mewah. Seakan hidup untuk hari itu saja. Hari esok tidak pernah dipikirkan. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi? Kalau sudah mengikuti gaya hidup, keuangan keluarga bisa terancam tidak sehat lagi.

Lalu, apa yang dapat dilakukan oleh kita, para perempuan agar bisa menjaga keuangan keluarga tetap sehat?

Pertama, sebagai pengelola, kunci keuangan keluarga, kita perlu bijak dalam mengatur keuangan dan harus benar-benar transparan. Sebaiknya dibuat catatan berupa buku yang memuat besarnya pendapatan dan pengeluaran rumah tangga. Jadi, anggota keluarga bisa mengetahui dengan jelas, ke mana larinya uang-uang yang telah susah payah dihasilkan.

Kedua, setiap pemasukan yang ada, selain dirinci untuk pengeluaran, dibuatkan juga dua pos tambahan seperti tabungan dan sedekah (zakat). Usahakan setiap bulan, kedua pos ini harus terisi agar kita bisa punya pegangan bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Menabung untuk masa depan, memiliki dua arti. Menabung untuk masa depan di dunia dan menabung untuk kehidupan di akhirat. Sebaiknya kita harus bisa menabung untuk dua jenis masa depan tersebut. Jika kita hanya sibuk menabung untuk kebutuhan masa depan dunia, bagaimana kehidupan kita di akhirat kelak?

Sebagai perempuan sekaligus seorang ibu, kita dapat menularkan kebiasaan menabung pada anak-anak. Ajarkan anak-anak menabung untuk kepentingan dunia dan akhiratnya sejak mereka masih kecil. Mengajak anak menabung dari kecil, bisa mendidik anak terbiasa melakukannya.

Bagaimana caranya agar anak bisa terbiasa menabung sejak dini? Berikan anak dua buah celengan untuk tabungan dunia dan akhiratnya. Ketika anak memiliki uang, biasakan mengajak dia untuk segera memasukkan uangnya ke celengan. Jika anak ingin jajan, ia bisa menggunakan sebagian kecil dari uangnya tersebut sebelum dimasukkan ke dalam celengan.

Selain membiasakan untuk gemar menabung, sebaiknya kita juga membiasakan anak untuk tidak selalu jajan di luar. Seperti kita ketahui, jajanan di luar belum terjamin kebersihannya, Mak! Dan kebiasaan jajan di luar itu, merupakan bagian dari perilaku konsumtif.

Sebagai kunci keuangan keluarga, kita bisa menyiasatinya, loh, Mak! Salah satunya dengan menyediakan makanan atau cemilan kesukaannya di rumah, sehingga anak tidak minta jajan makanan di luar.

Dengan menabung, kita juga sekaligus bisa berhemat. Tidak melulu hemat uang saja, tetapi menghemat energi yang adapun, bisa menyelamatkan keuangan keluarga. Gunakan listrik, air seperlunya. Selain dapat menyelamatkan dunia, pengeluaran biaya listrik dan air dapat juga ditekan.

Apabila siang hari, tidak perlu menyalakan lampu di dalam rumah. Buatlah rumah yang hemat energi dengan cara membuat jendela yang besar, Sehingga matahari bisa masuk ke dalam rumah. Begitu pula dengan penggunaan air. Ketika tidak digunakan, tutuplah keran agar tidak ada air yang terbuang. Nah, Mak, kedua penghematan tersebut, akan terasa membantu saat kita membayar tagihan pada bulan berikutnya, loh!

Κetiga, hindari lupa diri saat berbelanja. Perempuan pada umumnya identik dengan shopping. Ketika masih sendiri atau belum berumah tangga, ia shopping untuk dirinya sendiri. Dan ketika sudah menikah, maka kegiatan berbelanja akan meliputi kebutuhan rumah tangga, suami dan juga anaknya. Terkadang dia belanja lebih banyak dari yang lain, tetapi tidak ada satu barang pun untuk dirinya sendiri. Setelah menjadi seorang ibu, terkadang perempuan lupa pada kebutuhannya sendiri. Keluarga menjadi nomor satu baginya.

Bahkan di hampir setiap lapisan masyarakat, perempuan merasa lebih bertanggungjawab untuk anak dan orang-orang yang lebih tua darinya. Bentuk perhatian yang paling banyak diberikan yaitu berbelanja untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang ada di sekitarnya. Bisa dibilang, daftar belanjaannya panjang. Bukan hanya belanja untuk keperluannya saja, keperluan untuk suami, anak-anaknya, kolega, teman, saudara, orang tua bahkan untuk anak-anak kenalannya.

Oh, ya … walaupun begitu, tetap saja kita harus bisa mengendalikan diri. Berbelanja sewajarnya, jangan sampai lupa diri, deh!

Dalam tugasnya sebagai kunci keuangan keluarga, perlu membuatkan pos di awal bulan, untuk mempersiapkan belanja keperluan rumah tangga. Uang kebutuhan ini, sebaiknya dipisahkan dari pos lainnya.

Cara Mudah Mengelola Keuangan Keluarga

 

Pemasukan yang ada, harus bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan usahakan tidak habis alias ada sisanya! Lalu sisanya dimasukkan ke dalam pos tabungan. Bisa saja sisanya digunakan untuk menghadiahi diri sendiri, digunakan untuk berbelanja  kebutuhan sekunder untuk pribadi. Sah-sah saja, bukan?

Agar berbelanja tidak menghamburkan uang, ada beberapa tips yang dapat kita gunakan saat berbelanja.

  1. Buatlah daftar barang yang dibutuhkan. Sehingga ketika berbelanja hanya membeli barang yang dibutuhkan, tidak membeli barang lainnya.
  2. Jika berbelanja ke mini market atau super market, langsung menuju rak tempat barang yang akan dibeli. Usahakan tidak mampir ke rak lain, yang dapat menggoda kita untuk membeli barang yang tidak diperlukan.
  3. Bawalah uang sesuai dengan kebutuhan, tidak membawa uang terlalu banyak. Misalnya, jika diperkirakan uang yang akan dihabiskan untuk berbelanja sekitar 80 ribu rupiah, sebaiknya cukup membawa uang sebesar 100 ribu atau 120 ribu rupiah saja.
  4. Sebaiknya tinggalkan kartu kredit (jika punya) di rumah.

Berbelanja cerdas dapat membantu kita mengelola keuangan keluarga dengan sehat. Setidaknya menghindari berbelanja yang berlebihan dapat membuat kita lebih menghemat pengeluaran. Jika bukan kita yang bisa mengatur pengeluaran dengan baik, siapa lagi?

Bagaimana dengan Emak-emak? Apa yang akan dilakukan agar keuangan keluarga sehat? Sharing, yuuk!

***

Perempuan, Kunci Keuangan Keluarga yang Sehat merupakan post trigger #KEBloggingCollab dari kelompok Yohanan Susana yang ditulis oleh Nurul Fitri Fatkhani, emak blogger yang tinggal di Kota Subang, Jawa Barat.

Nurul Fitri, ibu dua anak yang mengelola blog https://www.nurulfitri.com/