Hai, Emak! Sudah tahukah, apa itu Bounce Rate? Bounce rate merupakan persentase pengunjung yang meninggalkan blog kita, setelah membaca satu laman saja, atau istilahnya ‘bounce back’ ke laman sebelumnya, atau laman search engine, kalau ia menemukan blog kita dari search engine. Bounce rate ini memang kemudian ada yang tinggi dan ada yang rendah. Tinggi rendahnya ini tergantung berapa lama “tamu” Emaks tinggal. Yang bagus itu yang kayak gimana? Bounce rate yang bagus adalah yang angka persentasenya kecil, Mak.

Sebenarnya tinggi dan rendahnya Bounce Rate ini juga relatif, tergantung jenis website dan nichenya juga. Namun, menurut penelitian RocketFuel, Bounce Rate rata-rata adalah antara 26-70%. Nah, kalau lebih dari 70% atau kurang dari 26%, itu berarti memang istimewa. Istimewanya bisa jadi berarti bagus, bisa berarti juga enggak sih. Jadi, jangan seneng dulu. Hehehe 😀

Masih berdasarkan data RocketFuel, mereka ngasih hasil surveynya seperti berikut ini:

  • Kurang dari 25%: kemungkinan ada yang error
  • 26-40%: Bounce Rate bagus
  • 41-55%: Bounce Rate rata-rata
  • 56-70%: tinggi tapi masih ok
  • Lebih dari 70%: Bounce Rate jelek atau ada yang error

Nah, kalau Bounce Rate kita tinggi, ada banyak sebabnya nih. Kita harus tahu dulu penyebabnya apa, baru deh kita bisa mulai mencari solusinya. Betul?

7 Penyebab Bounce Rate Tinggi

1. Terlalu banyak popups

Popups biasanya dipergunakan oleh pemilik sebuah web, untuk mengumpulkan email newsletter,  atau supaya pengunjung subscribe update web mereka. Atau untuk menaruh iklan juga bisa.

Somehow, popups memang efektif untuk membangun email marketing mandiri. Jika massa kita terkumpul cukup banyak melalui email, bisa jadi kita tak perlu lagi media sosial lo. Itulah kenapa kita sering diminta untuk berlangganan newsletter. Salah satunya melalui popups.

Ya, popups dinilai efektif untuk marketing mandiri. Tapi kalau kebanyakan, akan annoying juga. Nah, jika Emak memang menaruh popups di blog, saran aja nih untuk dites dulu. Jangan-jangan munculnya terlalu cepat, atau terlalu banyak.

Popups memang useful, tapi timingnya mesti tepat.

2. Loading blog berat

Sudah tahu kan, Mak, salah satu syarat web yang diminta Google agar bisa tampil di page 1 adalah load yang ringan dan cepat. Ini erat kaitannya dengan user experience.

Bayangin kita datang ke satu web, terus loadingnya luamaaa. Pasti akan bete kan, kita, Mak? Males nunggu, akhirnya mendingan cari yang lain aja.

Lalu apa saja yang bisa bikin blog kita lola alias loading lama? Prinsipnya, semakin banyak elemen dalam satu laman web atau blog, maka loading time akan bertambah.

Nah, coba sekarang dilihat lagi deh, blog kita, Mak. Ada apa aja di laman home-nya? Ada animasinya? Ada musiknya? Ada blink-blink ini itu? Banyak gambar? Banyak link?

That is why, desain blog yang minimalis sekarang ngehits dan banyak disuka. Karena loading time-nya cepat. So, coba deh, Mak. Yang nggak perlu ada, coba dikurangi deh di blognya ya!

3. Desain blognya kurang menarik

Soal desain, ini memang soal selera. Kita nggak bisa bilang yang begini ini jelek, yang begitu itu bagus. Saran saya sih, coba amati tren desain web/blog yang sekarang lagi ngehits. Kalau ada yang ngehits, sudah pasti itu biasanya adalah desain yang menarik bagi netizen pada umumnya.

Lalu, cobalah untuk mencari desain yang hampir serupa, atau mirip-mirip deh.

Memang ini subjektif banget. Kita juga, Mak, gimana bisa asyik ngeblog, kalau desain blognya nggak sesuai dengan selera kita? Meski mungkin desainnya ngehits, tapi kalau kita nggak suka gimana dong?

Nah, kalau sudah kayak gini ya, balik lagi ke tujuan ngeblog kita, Mak. Mau menulis untuk siapa. 🙂

Baca yuk tentang tips tampilan blog agar menarik

4. Nggak mobile friendly

Bisa dibaca dengan mudah melalui smartphone atau tablet juga menjadi salah 1 syarat web yang baik menurut Google.

Jadi, ayo, Maks, yang belum mobile friendly nih, disegerakan untuk bisa mobile friendly ya, blognya. Kalau perlu, amp-nya diaktifkan juga, Mak.

Kita juga bisa memilih template blog yang responsive, yaitu template blog yang bisa mengikuti device yang dipergunakan oleh audience. Atau, untuk yang menggunakan platform blogspot, jangan lupa mengaktifkan mobile theme on mobile devices.

Rangorang sekarang baca artikel/blog udah lewat smartphone semua, Mak. Kebayang nggak, udah datang ke web, eh webnya nggak mobile friendly. Kalau baca, mesti geser sana geser sini, zoom in zoom out. Capek, Mak! Mending bhay aja, cari web/blog lain yg lebih enak dibaca di hape.

5. Banyak blank page atau 404 error page

Nah ini nih. Kadang ada 1 artikel sudah kita publish, lalu kita hapus. Padahal link udah kesebar. Pengunjung yang datang, datangnya ya ke laman yang ilang karena sudah dihapus. Lalu nongol pesan “Laman tidak ditemukan” atau “404 error page”.

Ini juga terjadi kalau kita mengubah URL artikel SETELAH artikel dipublish, sedangkan link awal sudah tersebar. Pengunjung yg kecewa, akan segera pergi dari laman blog kita. Bikin Bounce Rate tinggi deh.

Nah, makanya, Mak, pikir-pikir dulu deh kalau mau ngehapus artikel yah. Kira-kira bisa ngaruh ke Bounce Rate nggak nih? Biasanya sih artikel yang dihapus ini adalah artikel sponsored ya, atau artikel yang disertakan lomba tapi nggak menang. Hehehe. Coba direnungkan lagi, Mak, perlu dihapus enggak. Mungkin bisa diedit ulang, supaya tetap bisa dipertahankan tapi nggak menunjukkan kalau itu artikel lomba, misalnya.

6. Judul dan isi konten tidak relevan

Waini nih. Yang sekarang ngehits dengan sebutan CLICKBAIT. Judul yang mancing orang buat ngeklik, tapi abis konten terbuka … yaelah. Gitu aja! Malah kadang nggak ada hubungannya tuh. Judul apa kontennya apa.

Tapi, saya sih percaya, emak-emak KEB nggak ada yang begitu kan yaaa? Yekan Maaak? :mrgreen:

7. Konten kurang berkualitas

Nah, ini memang banyak nih faktornya. Mungkin info yang Emaks tulis nggak semua orang nyari? Atau mungkin, pembahasan yang kurang mendalam? Kurang lengkap?

Ingat, Mak, bahwa artikel kita ini mungkin merupakan 1 dari sekian juta artikel dengan bahasan yang sama. Kalau ada artikel lain yang lebih lengkap, enjoyable dibaca, lebih komunikatif, ya pasti pembaca akan berpaling.

Iya, kalau memang kita berniat menjadi seorang blogger propesyenel *tsah*, kita harus bisa berusaha “memaksa” agar pembaca kita betah di blog kita.

Caranya gimana sih membuat konten yang bagus dan berkualitas itu? Ya, sajikan informasi dalam artikel blog kita dengan selengkap mungkin, semendalam mungkin, se-fun mungkin.

Nah, itu dia 7 penyebab utama Bounce Rate yang tinggi di blog kita, Mak.

Ada beberapa hal lain yang bisa juga jadi penyebabnya sih, misalnya meta description yang tidak sesuai dengan konten, bad backlink, pengaruh link afiliasi dan sebagainya. Memang banyak hal yang bisa membuat Bounce Rate kita tinggi. Dan, kalau sudah dibenerin satu, belum tentu langsung bener juga. Kita pun mesti juga memeriksa penyebab-penyebab yang lainnya

Jadi, misal, di blog kita selama ini ada popups, lalu setelah diturunin popups, belum tentu juga Bounce Rate-nya langsung membaik. Kita harus memeriksa secara menyeluruh, dan mengecek satu per satu penyebabnya. Ya ya yaaaa … Siapa yang bilang, ngeblog itu pekerjaan gampang? 😀 hehehe

Semoga bermanfaat ya, Mak!