Hai, Mak! Kali ini saya pengin sedikit sharing soal memposting foto anak di media sosial maupun media online lain, termasuk di blog. Meski itu adalah akun-akun media sosial atau blog kita sendiri, dan yang difoto juga anak-anak kita sendiri, tapi ada lo beberapa etika soal mempublish foto anak di “publik” seperti ini.

Kenapa harus ada etika seperti ini? Well, ada beberapa alasan. Salah satu alasan terbesarnya sih, untuk melindungi anak-anak kita dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Ingat nggak, Mak, dengan kasus sebuah grup Facebook yang isinya pedofil semua? Ngeri nggak sih itu, Mak? Kebayang nggak, kalau foto anak kita yang ada di grup itu? Dijadikan sebagai objek kelainan orientasi seksual para pedofil? Oh. My. God. Atau, ingat nggak, dengan kasus yang menimpa Ruben Onsu. Ia menemukan foto anaknya di suatu akun Instagram jual beli bayi? *merinding*

Selain alasan perlindungan, etika memposting foto anak ini juga soal menghargai privacy anak-anak kita. Pernah tahu puisi Kahlil Gibran, Mak?

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu.
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu.
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu.
Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu.
Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri.

Indah banget ya, Mak?

Dan, pasti Emak juga sudah menangkap intinya, bahwa anak-anak kita adalah pemilik diri mereka sendiri. Sehingga kita, meskipun kita adalah orang tua mereka, kita tetap harus menghargai hak mereka. Termasuk hak mereka untuk memutuskan, apakah mereka mau foto-foto mereka dipajang secara online.

Yatapi emak mana sih yang nggak suka pamerin foto-foto anaknya di media sosial? Iya nggak, Mak? Mungkin bisa dibilang semua emak pasti suka memotret dan kemudian meng-upload foto-foto anak mereka. Mengharapkan semua orang juga ikut mengagumi kepintaran, kelucuan dan kecantikan/kegantengan anak-anak mereka.

Tapi, demi kenyamanan anak-anak, sebaiknya jangan posting foto anak sembarangan sih, Mak, terutama 6 jenis foto ini.

 

6 Jenis foto anak yang sebisa mungkin tidak diposting secara online

 

Siapa Bilang Ibu Rumah Tangga Itu Pengangguran?

1. Foto sekelompok anak, meski di dalamnya ada anak-anak kita

Barangkali Emak baru saja menghadiri acara ulang tahun atau outing sekolah dan sempat foto-foto bersama? Ada anak-anak lain juga dalam foto tersebut ya, Mak?

Kalau iya, tahan dulu deh. Jangan dulu diunggah, apalagi ngetag ibu anak-anak tersebut, Akan lebih baik jika kita meminta izin dulu. Setidaknya tanyakan, apakah boleh foto tersebut diunggah di akun kita?

Mungkin bagi kita, posting foto anak itu biasa saja. Tapi belum tentu dengan orang tua lainnya. Kita harus menghargai keputusan dan pilihan mereka. Setuju kan?

 

2. Saat anak berangkat sekolah

Nah, ini yang biasanya terjadi kalau lagi euforia hari pertama masuk sekolah nih. Saking senengnya lihat anak akhirnya masuk sekolah untuk yang pertama kalinya ya, mesti diabadikan nih!

Ya, boleh saja sih. Tapi usahakan jangan sampai badge sekolahnya kelihatan jelas di foto ya. Juga jangan diperlihatkan papan nama sekolahnya, atau hal-hal lain yang bisa “mengungkap” identitas sekolahnya.

Kenapa begitu?

Suka baca berita atau denger cerita nggak, Mak, ada modus penipuan yang mengatasnamakan rumah sakit. Katanya, anak kecelakaan di sekolah, lalu harus dibawa ke rumah sakit. Atau, kalau ada kasus penculikan anak. Menurut data yang ada, banyak pelaku yang “menemukan” korbannya melalui media sosial lo!

Ngeri nggak sih, Mak? Hedeh. Saya sih tatuttt!

 

3. Saat anak mandi atau kondisi apa pun yang tidak pantas

Nah, ini nih. Kadang masih sering terlihat juga wira-wiri di media sosial, bahkan juga di blog. Demi konten yang maksimal, kita pun memposting foto anak yang lagi mandi, tanpa sensor, memperlihatkan setiap bagian tubuhnya. Demi memenuhi permintaan klien untuk sponsored post, kita pun merelakan anak-anak terekspos bagian tubuhnya.

Aduduh. Nggak segitunya juga sih, kayaknya ya? Kita ini kan kreatif ya, pasti bisa cari cara supaya tetap memenuhi permintaan klien, tapi juga melindungi hak anak.

Coba deh dipikirkan, kira-kira apa pendapat anak kita kalau kelak ia menemukan fotonya yang nggak senonoh itu nangkring di media sosial ataupun blog emaknya? Akankah ia setuju dan suka? Belum tentu.

Posenya yang kurang pantas akan membuatnya malu, mungkin, Mak. Bisa jadi akan memengaruhi psikisnya juga. Bisa jadi rasa percaya dirinya juga akan runtuh. Apalagi kalau kemudian teman-temannya juga menemukan “bukti” ini. Aduh, bisa jadi ia nanti akan dirundung.

Sedihnyaaa …

Ingat, Mak, kita nggak akan pernah bisa tahu, siapa saja yang bisa melihat foto-foto anak kita. Kita nggak pernah bisa memastikan dan mengecek satu per satu orang yang mengakses foto anak kita.

 

4. Foto yang memperlihatkan anak sedang dalam keadaan menangis, atau tidur ngiler, atau pose-pose lain yang akan mempermalukan dirinya

Kenapa hayo, Mak, kok kita sebaiknya nggak memposting fotonya, saat mereka sedang menangis atau pose-pose lain yang akan mempermalukan dirinya?

Yes, Emak pasti tahu deh kenapa yah? 🙂

Intinya sih, meski anak-anak masih butuh kita untuk memutuskan apa yang terbaik untuk mereka, tapi jangan lupa, mereka tetaplah pribadi yang mempunyai dan butuh dilindungi hak privacy-nya.

Persis seperti yang tadi ada dalam puisi Kahlil Gibran kan, Mak?

Kalau Emak mau mengunggah foto-foto mereka, ada baiknya ditanyakan dulu, apakah mereka suka foto tersebut? Tanyakan juga, is it ok untuk diunggah dan dilihat oleh banyak orang?

 

5. Foto dengan pose atau posisi berbahaya

Misalnya, foto kita yang sedang menyetir mobil, dan ada si kecil di pangkuan. Yah, bagi kita mungkin hal ini nggak masalah. Kan mobilnya juga nggak jalan, barangkali ya.

Tapi, orang-orang melihatnya di media sosial kan tak pernah tahu kondisi sebenarnya, atau ada apa di balik sebuah foto? Mereka akan berkomentar, dan mungkin kemudian akan menghakimi kita yang (mungkin) dianggap nggak perhatian akan keselamatan anak.

Ada banyak orang “tersembunyi” di balik akun yang kita tak pernah tahu. Masing-masing punya pendapat dan pandangan berbeda-beda terhadap sesuatu. Semua punya prinsip dan pemahaman mereka sendiri-sendiri. Kita kan nggak bisa mengontrol, apa saja yang ada di kepala orang lain. Betul nggak sih?

Jangan salahkan orang lain yang miss-persepsi terhadap kita. Jangan cegah mereka untuk berpendapat berdasarkan apa yang kita unggah semata. Apa yang kita unggah adalah sepenuhnya tanggung jawab kita sendiri.

 

6. Foto lokasi liburan

Wait, what? Nggak boleh posting foto2 liburan?!

Bukan berarti nggak boleh share foto-foto liburan sama sekali juga sih. Tapi akan lebih baik jika memposting foto liburan keluarga setelah kita kembali lagi ke rumah.

Kenapa gitu? Well, memposting foto liburan saat masih di lokasi, secara tak langsung, kita telah menginformasikan pada orang lain  (yang lagi-lagi kita tak pernah tahu siapa) bahwa kita sekeluarga sedang pergi dan rumah kosong.

Yah, jadi sudah kebayang kan, kemungkinan seperti apa yang terjadi selanjutnya?

Memang nggak semua kejahatan berawal dari pengunggahan foto di media sosial, but it’s better to be safe than sorry, right?

 

Nah, itu dia beberapa jenis foto anak yang sebaiknya tak diunggah ke media sosial atau blog. Zaman now gitu lo! Apa-apa sudah dengan mudah kita dapatkan dengan bantuan teknologi. Termasuk juga data pribadi yang kemudian bisa digunakan secara tak bertanggung jawab oleh orang-orang yang bermaksud tak baik.

Jadi, ada baiknya, kita lebih berhati-hati lagi. Betul kan, Mak?

Stay smart ya!