Yuk, Mak, kita akan ngomongin travel blog. Hazeeegggh! Yes, saya punya sedikit tip nih, terutama buat siapa saja yang pengin memulai travel blog.

How to start a travel blog from scratch. Ciyehhh. Keren bat kan, judulnya? 😆

Okai. Sebenarnya memulai travel blog itu sama saja dengan memulai blog pada umumnya sih, atau juga niche apa pun. Hanya saja, karena sedari awal kita sudah tahu sasaran kita ke mana, maka ada beberapa hal yang harus kita perhatikan.

Beberapa hal tersebut dimaksudkan supaya travel blog kita bisa konsisten dan tepat sasaran gitu deh, Mak.
Makanya penting untuk kita pikirkan sejak awal.

Nah, mari kita lihat. Apa saja nih yang kita perlukan untuk memulai sebuah travel blog.

 

7 Hal yang Perlu Diingat dan Dipertimbangkan untuk Memulai Travel Blog

1. Pilih nama yang unik dan gampang diingat

Nah, ini sepertinya gampang-gampang susah sih 😆 Tapi memang mesti dipikirkan benar-benar. Nggak bisa enggak. Saya sudah coba untuk mengumpulkan beberapa saran dari para travel blogger yang sudah sukses terkait nama travel blog nih. Coba disimak yah.

  • Kreatif dalam mencari nama. Coba cari nama selain yang mengandung kata “travels”, “wandering”, “backpacking”, “nomadic”, dan “adventurous”. Menurut beberapa travel blogger, kata-kata tersebut sudah overused. Nah, jadi, coba cari nama lain ya. Biar beda. Kalau di bahasa Indonesia, mungkin kata “liburan”, “perjalanan”, “traveling”, adalah beberapa kata yang sebaiknya dihindari untuk dijadikan sebagai branding travel blog kita.
  • Berpikirlah long term. Misalnya, jangan memakai nama “traveler 20 something”. Nah, ini bakalan bikin kita “terjebak” di usia 20an. Nanti kita nggak bisa mengembangkan diri seumpama ada peluang kerja sama tapi untuk demografi 30-an, misalnya.
  • Jangan memakai nama yang bakalan membatasi diri kita sendiri. Misalnya, “backpacker”. Nah, ternyata ini bisa jadi membatasi diri kita untuk selalu menjadi backpacking. Padahal mungkin bakalan ada tawaran utk menginap di hotel bintang 5, misalnya. Jelas ini nggak sesuai dengan demografi yang dicari oleh klien yang pengin direpresentasikan oleh travel blogger yang luxurious.

Urusan nama ini memang nggak bisa dianggap remeh ya. Jadi, coba investasikan waktu untuk memikirkannya baik-baik.

 

2. Pilih platform blog yang paling sesuai

Ini soal selera sih. Bisa pilih Blogspot, atau WordPress. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.
Bisa diriset dulu plus minusnya, lalu disesuaikan dengan kebutuhan.

 

3. Rancang navigasi yang rapi

Navigasi yang rapi terbentuk dari kategorisasi yang juga rapi.

Nah, jadi breakdown topik travel blog kita sejak awal. Mau dibagi-bagi berdasarkan apa nih? Daerah jelajah? Atau cara traveling, jenis wisata? Atau, … apa? Setelah terbagi ke topik-topik besar, bisa dibreakdown lagi ke masing-masing subtopik.

Tapi, seandainya belum bisa bagi ke subtopik juga nggak apa-apa juga sih, Mak. Pokoknya sudah ada topik-topik besarnya saja dulu. Sembari jalan nanti juga akan ketemu kok.

Gunakanlah topik-topik besar yang sudah ditentukan ini sebagai navigasi blog. Jangan lupa untuk menambahkan about me, disclaimer dan laman-laman yang perlu ya.

 

4. Siapkan konsep media sosial

Mau pakai media sosial apa nih sebagai penunjang travel blog kita? Tapi, kayaknya sih, untuk travel blog, Instagram masih megang ya, Mak.

Nah, kan kalau feed Instagram ya banyak yang bilang, kerennya itu kalau bisa rapi. Misalnya dibikin pola gimanaaaa gitu. Sering lihat kan ya, Mak? Nah, mulai dipikirin deh sejak awal–bahkan sebelum memulai travel blog–mau kayak gimana tuh, Instagram kita?

Mau pakai nuansa warna tertentu? Atau mau pakai pola? Atau, gaya kek gimana? Yang pasti, harus menonjolkan travelingnya ya. Bukan foto #OOTD ya Mak. Kan kita mau bikin travel blog, bukan fashion blog 😆

Saya sudah pernah sharing soal mengoptimasi Feed dan Profil Instagram, juga beberapa update terkait algoritme Instagram ya. Boleh dilihat-lihat lagi ya.

Terus, setelah Instagram, terus mau pakai media sosial yang mana lagi? Facebook? Twitter? Mungkin di hari tertentu, bisa dijadwalkan untuk sharing di Twitter. Kayak si #MakminSpesialisMalam tuh. Uhuk.

 

5. Temukan gaya bahasa

Gaya bahasa ini bisa menjadikan diri kita unik. Jadi memang akan lebih baik kalau kita cari sedari awal.

Jadi, mau kayak gimana sih nanti tulisan traveling kita tuh? Kita mau banyak story telling, atau berbagi tips? Atau kombinasi? Bakalan banyak bahas pengalaman, ataukah akan berbentuk round up atau listing? Mau bergaya santai? Atau heboh? Atau, yang agak-agak resmi gimana gitu? Ingat, gaya bahasa akan menentukan keunikan kita ya. Jadi–sekali lagi–ini harus dipikirkan.

Ini bukannya lantas kita membatasi diri sendiri ya, Mak. Tapi tujuannya agar lebih fokus. Bisa saja nanti misal, ada artikel yang listing, ada pula yang story telling. Itu nggak masalah juga.

 

6. Investasi untuk foto yang mumpuni

Kekuatan sebuah travel blog adalah pada cerita dan juga foto, biasanya. Yekan, Mak? Maka, jangan lupa berinvestasi untuk bisa menghasilkan foto yang baik.

Eits, sebentar. Jangan berpikir kalau yang namanya investasi itu berarti bahwa kita mesti punya kamera paling bagus, atau mesti beli smartphone paling canggih ya. Investasi itu berarti juga waktu dan tenaga. Nah, saran. Investasikan waktu dan tenaga untuk belajar fotografi yang baik. Bukan kamera atau smartphone-nya yang paling penting, Mak. But, the man behind the gun. Ciyeh.

Artinya, skill kitalah yang menentukan suatu foto itu bisa bagus atau enggak. Jadi investasikan waktu dan tenaga utk terus belajar dan praktik ya.

 

7. Temukan networking yang tepat

Ada banyak komunitas yang bisa kita gabung. Manfaatkan ini untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya seputar dunia traveling.

Ingat, Mak. Always surround yourself dengan orang-rang yang se-frekuensi, se-passion, dan yang punya aura positif ya. Karena bakalan membuat kita lebih semangat menjalani apa pun yang kita niatkan.

 

Nah, itu tadi beberapa tip saya soal memulai travel blog from scratch. Ada yg mau menambahi? Atau mau diskusi? Kuy! Langsung ke kolom komen yah!