Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Jika emaknya blogger, tak heran kalau si remaja pengin menulis blog juga. Remaja ngeblog, boleh kan?

Seringkali Emak merasa si remaja tak paham dengan hobi Emak sehingga tidak banyak mendiskusikannya berdua. Ada yang memang demikian, ada yang diam-diam memperhatikan.

Sebenarnya, apa yang dilihat anak kita, sama saja seperti yang orang lihat bahwa ngeblog itu pastilah mengasyikkan, karena bisa menulis dengan bebas, mendapat banyak produk gratis, dibayar, diundang ke event, terkenal dan sebagainya. Tapi yang membuat tidak banyak remaja yang mendekat ke hobi ini mungkin karena ia tidak menemukan adanya lingkaran pertemanan yang segenerasi. Umumnya remaja banyak berkumpul di platform yang lebih ekspresif dan praktis di media sosial.

Baca yuk: Life Skill yang Bisa Diajarkan Pada Remaja

Namun demikian, bukan berarti tak ada sama sekali remaja yang mencoba menjadi blogger. Indikasinya bisa dilihat di Hari Blogger Nasional lalu, ketika beberapa remaja usia SMA ikut mengapresiasi meski tak semua sudah punya blog.

Sebagai blogger yang telah mengetahui suka dan duka ngeblog, tentu Emak tidak mau membiarkan si remaja mulai menulis blog tanpa bekal. Mereka seharusnya tak perlu menjalani masa awal ngeblog yang tanpa arah seperti Emak dulu. Mereka sudah punya Emak yang bisa menjadi pengarah agar waktu mereka tidak terbuang percuma dan terhindar dari masalah yang merugikan. Namun demikian, perlu diingat bahwa remaja umumnya eksploratif dan punya self-drive yang tinggi.

Jadi Emak tak perlu terlalu mencampuri tema konten blog si remaja. Jangan ganggu ketika si remaja sedang asik ngetik. Emak cukup memberitahu batasan-batasan blogging ketika sedang ngobrol santai.

Berikut tip menulis blog yang bisa disampaikan ke si remaja, yang bisa dia gunakan sebagai batasan agar hobi barunya itu bermanfaat dan terhindar dari masalah.

 

5 Tip menulis blog untuk remaja yang baru mulai coba-coba

 

Performa Media Sosial

1. Lindungi Data Pribadi

Pentingnya melindungi data pribadi adalah yang pertama kali harus Emak jelaskan ke si remaja.

Memang, Emak tak boleh meremehkan kesadaran si remaja terhadap keamanan data pribadi. Remaja zaman sekarang pintar-pintar. Mungkin pengetahuan teknologi informasi mereka lebih tinggi dari Emak. Namun, gejolak remaja dan pengalaman hidup yang tidak ada apa-apanya dibandingkan Emak bisa saja membuat mereka lepas kendali.

Emak harus selalu mengingatkan si remaja untuk tidak mencantumkan nama lengkap, alamat dan nomor telepon pribadi di blog, kecuali yang memang khusus ditujukan untuk usaha. Itupun harus di bawah pengawasan Emak. Remaja kok urusannya sudah sampai usaha? Ya, bisa saja kalau mau jualan pernak pernik Kpop, misalnya.

Data pribadi tersebut termasuk yang dimiliki anggota keluarga. Misalnya saking sayangnya pada si adik, si remaja tidak tahan untuk menceritakan kelucuan si adik di sekolah, lengkap dengan ilustrasi foto si adik di depan papan nama sekolah. Misalnya lagi, si remaja memposting begitu saja cerita si ayah yang sedang kesal dengan atasan ke Emak ketika makan malam tanpa mensensor nama kantor dan nama atasan tersebut.

Nah, bisa fatal kan akibatnya?

Emak harus tambah waspada kalau si remaja sedang suka atau malah sakit hati dengan lawan jenis. Terlebih jika si remaja sedang kesal dengan rival di kehidupan asmaranya. Tak perlu terlalu ketat mengawasi supaya tidak ada kejadian memalukan. Bukankah memalukan itu adalah bagian dari masa remaja? Hehehe. Let them do silly things so they can take a leason to grow up.

Yang penting mereka tidak sampai menyebutkan nama seseorang tersebut dan melontarkan kekesalan dengan gamblang agar tidak menjadi masalah besar jika si dia tidak terima.

 

2. Memilih Tema Blog

Sebenarnya bukan cuma tema curhat yang perlu diwaspadai agar tidak kebablasan. Semua tema ada batasannya. Emak pasti sudah pahamlah mana yang sensitif. Kan sudah sering sharing tentang liku-liku menulis blog dengan emak-emak anggota Kumpulan Emak Blogger?

Tak semua remaja akan mengambil tema menye-menye. Ada sebagian remaja yang sangat serius memandang hidup dan secara intensif bergabung dengan group debat. Yang perlu Emak sampaikan adalah blog tidak seperti sekolah dan bukan pula group chat. Semua orang dari belahan dunia mana pun dengan berbagai latar belakang bisa saja tidak sependapat dan bisa saja menyampaikan bantahan semaunya.

Sekalipun tema yang diangkat ringan, pelintas blog tetap bisa memberi penilaian sesuka hatinya. “Dih, lebay banget sih, gitu aja ditulis!”

Intinya, si remaja harus diberi semangat untuk yakin dengan tema blog yang mereka pilih. Pilihan sendiri akan mudah dihayati daripada Emak yang menyodorkan tema.

Tugas Emak adalah menyiapkan mental mereka terhadap kemungkinan-kemungkinan tak mengenakkan yang bisa saja terjadi karena bagaimanapun ngeblog itu berarti si remaja membuka diri pada dunia yang tak bisa dia kontrol.

Emak tak perlu terlalu mengarahkan tema blog apa yang harus dipilihnya karena landasan Emak kebanyakan adalah prospek, sedang si remaja lebih banyak mengikuti kesenangan. Jangan membuatnya stres dengan berbagai strategi menulis blog sebelum dia benar-benar mencintai aktivitas blogging.

Tak masalah jika tema blog tersebut gagal mendapatkan perhatian pengunjung. Biarkan dia menghabiskan jatah gagalnya di usia yang sangat muda, dengan harapan dia bisa belajar dari kegagalan tersebut. Lalu ia bisa bangkit dan menjadi blogger muda yang sukses tak lama kemudian.

 

3. Mempertanggungjawabkan Konten

Konten boleh saja menye-menye tapi semua isinya harus bisa dipertanggungjawabkan. Blog adalah media terbuka sehingga semua kesalahan bisa diketahui dan digugat orang lain.

Batasan yang tak bisa ditawar adalah hindari konten SARA, larangan memuat konten copas atau copy paste tanpa menyebutkan sumbernya dengan jelas, foto-foto tak senonoh, foto tanpa minta izin orang yang berada di dalam foto tersebut, konten yang berisi tuduhan, dan konten yang tak terverifikasi alias hoaks.

Sebagai media terbuka, sepertinya blogging memang banyak aturan. Tapi tak perlu juga semua dijejalkan ke si remaja. Bisa-bisa dia pusing duluan dan akhirnya membuat ia tidak produktif menulis blog. Batasan seperti itu bisa Emak masukkan satu per satu menyesuaikan dengan apa yang akan diunggahnya. Lama-lama dia akan punya self-control tanpa merasa terbebani.

Sebenarnya jika dia telah dididik dengan baik di rumah maupun sekolah, batasan ngeblog akan mudah dipahami si remaja karena pada dasarnya sama saja dengan kehidupan sehari-hari, yaitu menghargai hak orang lain dan menjaga nama baik diri sendiri.

 

4. Belajar dengan Benar

Blogging, micro blogging atau apapun yang berkaitan dengan menulis digital akan menjadi salah satu profesi penting di masa depan. Segala yang cetak akan menurun dratis. Si remaja tak perlu melalui masa-masa menulis curhatan nggak jelas dulu sebelum jadi blogger penuh job seperti Emak. Jejaring emak kan sudah luas? Langsung saja Emak rekomendasikan di mana ia bisa belajar teknis ngeblog dan ilustrasinya yang paling modern.

Dengan daya serap yang masih segar, remaja akan mampu belajar lebih cepat dari Emak. Jangan sampai si remaja cuma bisa nyepam dan minta sedekah komen. Pada masa kejayaannya nanti, hal-hal seperti itu akan punah sesuai dengan karakter sebuah kegiatan profesional, diganti dengan berbagai algoritma dan optimasi.

Belajar dengan benar juga akan membuat si remaja melaju di dunia blogging karena sudah semestinya seorang murid akan melampaui kemampuan sang guru di suatu masa. Dan sudah menjadi sifat anak muda untuk tidak berhenti pada ilmu yang didapatnya, melainkan akan terus mengembangkannya.

Sayang sekali jika dia tidak belajar dengan benar karena hanya akan menghasilkan generasi instan yang tidak kreatif.

 

5. Mencari Lingkungan Pendukung

KEB sering bersinergi dengan berbagai lembaga atau komunitas lintas gender dan generasi. Jejaring yang Emak dapatkan dari KEB itu akan membantu si remaja mendapatkan sekelompok penyemangat. Remaja perlu berada di lingkungan yang memiliki hobi dan milestone yang saling mendukung.

Emak bisa saja mengambil jalan praktis dengan menggandeng si remaja ke event-event yang Emak hadiri agar si remaja masuk ke jejaring blogger Emak. Tapi milestone lingkungan Emak kemungkinan tak sesuai dengan si remaja yang masih amat jauh ke depan. Lebih baik Emak menyaring jejaring, agar bisa mendapatkan yang sesuai untuk si remaja.

Tak hanya milestone yang berbeda, tapi cara berpikir dan gaya hidup remaja tentunya berbeda dengan Emak. Itu akan tercermin ke dalam isi blognya. Biarkan dia berbeda dengan Emak karena dia akan tumbuh bersama pengunjung blog dari generasinya sampai  dua atau tiga dasawarsa ke depan, bukan dengan pengunjung setia blog emak yang mungkin sudah memiliki keterbatasan untuk membaca tulisan dari mobile gadget berukuran kecil 15 tahun lagi.

 

Sehobi dengan si remaja akan sangat menyenangkan jika ada kesadaran bahwa hobi bisa saja sama tapi tantangan, harapan dan cara menikmatinya  berbeda.